Program bayi tabung memang sudah jamak dikenal oleh banyak masyrakat. Maklum, sudah banyak pasangan suami isteri yang telah berhasil memperoleh keturunan lewat program ini. Sebut saja Tya Ariestya yang berhasil memperoleh dua anak lewat program yang juga dikenal dengan nama fertilisasi in vitro ini.
Dr. Wardjo Syamsuri SpOG yang sehari-hari praktek sebagai dokter spesialis kandungan di Kota Tasikmalaya mengatakan, bahwa masalah yang biasa dialami sehingga perlu melakukan program bayi tabung adalah PCOS serta endometriosis. Sementara untuk kaum prianya kebanyakan memiliki masalah pada kurangnya jumlah sperma sehingga sulit membuahi sel telur.
PCOS itu sendiri dijelaskan dokter Wardjo sebagai kelainan hormon yang menyebabkan wanita sulit hamil. Umumnya tubuh wanita yang menderita PCOS lebih banyak menghasilkan hormon pria. Akibatnya penderitanya dapat mengalami periode menstruasi yang tidak teratur, mudah berjerawat, serta memiliki banyak kista atau kantung berisi cairan di ovariumnya.
Sementara endometriosis merupakan kondisi di mana jaringan yang seharusnya melapisi dinding rahim justru tumbuh dan menumpuk di luar rahim. Normalnya sebelum menstruasi, jaringan tersebut akan menebal, luruh, untuk kemudian keluar dari tubuh dalam bentuk darah menstruasi. Tapi pada kasus endometriosis, jaringan di luar rahim ikut menebal namun tidak dapat luruh dan keluar dari tubuh.
Senada dengan dokter Wardjo, dalam wawancara secara terpisah yang pernah dilakukan oleh SBH, dr. Arie Adrianus Polim, D. Mas, SpOG (K), dokter spesialis kandungan yang juga merupakan konsultan Fertilitas Endokrin Reproduksi di RS Bunda, Jakarta Pusat, mengatakan bahwa PCOS dan endometriosis memang dapat menggangu terjadinya proses kehamilan, sehingga bisa dijadikan patokan perlunya melakukan program bayi tabung.
“Secara umum sebenarnya ada 3 indikasi yang dapat dijadikan patokan perlunya melakukan program bayi tabung. Pertama karena adanya masalah pada tuba saluran telur wanita, dimana jika kedua salurannya tertutup, maka proses fertilisasi secara natural tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan sehingga perlu bantuan manusia. Kedua, adanya masalah pada sperma pria. Ketiga adanya kasus-kasus yang penyebabnya tidak diketahui atau disebut pula unexplained infertility,” jelas dokter Arie.
Lebih lanjut dokter Arie menjelaskan bahwa program bayi tabung atau IVF (in vitro fertilisation) merupakan proses fertilisasi atau pembuahan yang terjadi di luar rahim ibu, yaitu dengan cara mempertemukan sel sperma dan sel telur pada medium kultur yang dilakukan di laboratorium. Setelah pembuahan terjadi, maka sel tersebut akan segera dikembalikan ke dalam rahim.
Namun patut di ingat, meski bisa dikatakan bahwa pembuahan tersebut telah diatur sedemikian rupa dengan alat canggih, tapi bukan berarti program bayi tabung dijamin akan berhasil 100 persen. Pasalnya, ada banyak faktor lain yang mempengaruhi. Diantaranya adalah kualitas sel telur atau sperma, dan lain sebagainya.
“Perlu juga diketahui, salah satu hal krusial yang mempengaruhi tingkat keberhasilan program bayi tabung adalah faktor usia, terutama dari pihak wanita. Jika usia wanitanya di bawah 30 tahun, maka tingkat keberhasilannya bisa mencapai 60%. Usia antara 30-35 tahun 40%. Di atas 35 tahun 25-30%. Sementara diatas 40 tahun, tingkat keberhasilan bayi tabung hanya 15%,” kata dokter Arie.
Karenanya dokter Wardjo menambahkan, sebelum benar-benar memutuskan ikut program bayi tabung, lebih baik konsultasikan terlebih dahulu secara detail. “Diskusikan dengan dokter yang menangani mengenai risiko gagal dan keberhasilannya sesuai kondisi tubuh. Tanyakan juga apakah hanya program bayi tabung yang paling sesuai atau justru terbuka harapan dari program lain. Hal ini penting mengingat biaya yang dibutuhkan untuk program bayi tabung juga tidak sedikit, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah,” tambahnya.







